Saat Buliran Air Mata Tertumpah…

Bismillaahirrohmanirrohiim…

Dan kepingan air mata itu tumpah begitu saja…

Tanpa ada yang meminta…

Mungkin sebagai obat hati,

Sebab ia merasa lemah…

Sebab ia merasa kalah…

Sebab ia sadar..

..

…..

ada Yang Maha Kuasa yang memiliki segalanya…

Emergeny Room..

Malam itu, hawa dingin ruangan bedah minor di sebuah instalasi gawat darurat menjadi lebih hangat dan pengap dengan aroma tajam yang menusuk hidung.

Seorang lelaki yang bisa digolongkan dewasa muda, berusia 15tahunan tengah berbaring lemah, tanpa daya. Hanya ucapan singkat yang keluar dari mulutnya ketika saya menghampirinya. Tersenyum meski rasanya getir. Keluarga yang sudah 6 hari setia disisinya pun masih semangat mengayunkan kipas anyaman sekedar mengurangi rasa panas dan pedih yang dirasakan remaja itu.

“mas F*** bagaiamna kabarnya? sudah siap di operasi?” tanya saya padanya.

dia mengangguk lemah, kemudian memandangi kedua tangannya yang melepuh, bernanah dan mengeluarkan aroma yang cukup menyengat.

Yaa…malam ini, dia harus menjalani operasi amputasi kedua tangannya. Sengatan listrik saat dia sedang berusaha membantu temannya ketika membetulakn parabola, telah menghanguskan jari-jari tangannya. Lengan bawahnya melepuh. Dokter spesialis bedah mendiagnosisnya gangren.

MasyaALLOH..

di usai semuda itu dia harus kehilangan kedua tangannya?

baru saja ijazah kelulusan ia terima..berharap dengan ijazah itu ia bisa bekerja. Memperoleh uang untuk membatu orangtuanya…

Tapi, belum cita-cita mulianya terkabul, ALLOH berkehendak lain…

Qodarulloohi wa maa syaa’a fa’ala…

Tak kuasa saya mengantarkannya ke depan pintu kamar operasi malam itu…

Ibunya hanya tertunduk pasrah.. ketiga kakaknya tak kuasa melihatnya dan memilih untuk lari sebelum adiknya melihat buliran air mata mereka tumpah.

Hanya wajah tenang dan keyakinannya untuk sembuh, dia tegar!

Meski hati kecilnya mungkin tidak mengingankannya…

Tapi, amputasi adalah tindakan final untuk mencegah infeksi lebih lanjut dari lukanya itu. Karena jaringan otot kedua tanggannya sudah tidak mampu untuk dipertahankan.

Tak kuasa, ketika ibunya pun menitikan air mata…

Saya tahu perasaanmu wahai ibu…

Meskipun berat, tapi yakinlah.. ALLOH punya rencana lain dari musibah ini..

3 jam kemudian…

Tempat tidur itu didorong keluar dari kamar operasi..

Terlihatlah kain kasa membungkus di sepertiga lengan kedua tangannya..

MasyaALLOH………………..

Air mata itu tertumpah kembali….

kuatkan mereka ya Rabb….

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Dalam Hening Malam ; 02.30



Tiba-tiba seorang wanita paruh baya menghampiri kami yang ketika itu sedang duduk di lobi IDG.

“neng………. (dengan logat sunda kental, yang saya tidak tau artinya) “

“kenapa ibu…?” berulang kali saya menanyakan ulang, mencoba mencerna arti dari pertanyaannya. Tetap saja tidak bisa.

Akhirnya seorang teman menghampiri sekat kamar nomer 5 dimana seorang lelaki paruh baya berusia sekitar 55tahun sedang dalam posisi berbering setengah duduk tampak kepayahan.

Ternyata si bapak tengah buang air besar, dan meminta pispot (plastik tempat membuang BAK maupun BAB bilaman pasien tidak dapat ke KM).

Selesai memberikan keperluan si bapak, kami lanjut berdiskusi. Entah kenapa, malam itu saya tidak berminat tidur sama sekali. Padahal sudah hampir dini hari. Ruangan koas yang pengap dan tidak ada tempat untuk tidur memaksa saya untuk tetap terjaga sambil sesekali membuka lembaran demi lembaran materi yang sudah 4 minggu ini belum juga saya selesaikan.

Tidak begitu lama (sekitar 20 menit) tiba-tiba si ibu tadi berteriak…

Spontan kami mendekat, ternyata si bapak sudah tidak sadarkan diri.

Segera para perawat senior itu mengecek tanda vital pasien meliputi tekanan darah, pernafasan, nadi dan suhu serta memposisikan pasien dengan posisi syok.

Syok hipoglikemik!

Begitu diagnosisinya. Dari pemeriksaan laborat terakhir ternyata kadar glukosa darah sewaktu (kandungan gula dalam darah) sangat rendah, hanya 35! padahal normalnya dibawah 200.

Terapi yang sudah diberikan rupanya belum berhasil mendongkrak glukosa darahnya.

Selain itu, kondisi pasien juga diperparah dengan adanya melena (BAB berwarna hitam) yang dicurigai ada perdarahan di saluran cerna karena kadar Hbnya pun ternyata rendah, hanya 8.

Hampir 30 menit para tenaga medis itu berupaya memberikan pertolongan maksimal…

Tapi……ALLOH berkehendak lain….

Innalillahi wa innaillahi roji’un….

Pecahlah keheningan malam itu…

Istrinya tiba-tiba jatuh pingsan dan bangun, kemudian berteriak histeris.

Anaknya yang sulung pun demikian, belum lagi saudara-saudara yang tururt mengantarnya…

Mereka mungkin tidak percaya dengan apa yang terjadi dengan orang yang mereka cintai…

tapi apalah daya kita?

ALLOH yang berkuasa…

Buliran air mata yang menetespun tak akan mampu mengubah takdir yang telah ditetapkanNya.

Hanya keikhlasan yang menjadi penguatnya…

Tiba-tiba saja saya tersentak…

Begitu dekatkah kematian itu??

Baru saja malaikat pencabut nyawa datang di ruangan yang mana aku ada di didalamnya..

Sekarang gilirannya,

mungkinkah besok giliranku??

Ya ALLOOH…..aku masih takut mati…..

*21-22 mei 10 ; saat rutinitas jaga itu berlangsung

12 thoughts on “Saat Buliran Air Mata Tertumpah…

  1. dek.. semoga cepat selesai coass nya. Se[tember sumpah dokter ya? afwan.. ana belum sempat email anti. semoga Alloh selalu memberi kemudahan ya ukhty …

  2. menyentuh. feature yg menarik. sangat menarik. ayo ditulis lagi featurenya yg menyentuh hati. saya yakin bisa diambil banyak pelajaran. karena musibah kita tak tahu kapan datang, namun mengambil hikmah terlebih dahulu sesuatu yang sangat indah. saya jadi ingat sebuah buku Kesaksian Seorang Dokter. dimana disana tulisan dokter di salah satu negara Arab berbicara soal maut-maut yang dekat dengan kehidupannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s