Kenali Tanda Stress Pada Anak

Stress merupakan suatu kondisi yang tidak enak / seimbang akibat adanya suatu rangsangan dari luar dirinya, maka individu akan segera berusaha mengatasinya untuk mencapai keadaan seimbang. Bila gagal mengatasinya maka individu mengalami penderitaan.

Dalam kehidupan perlu ada stress agar individu dapat belajar sejak dini bagaimana mengatasinya supaya dapat hidup terus. Sumber stress adalah frustasi (kekecewaan), konflik, tekanan atau krisis. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa anak balita bisa stress yang bila tidak diatasi dengan baik akan berdampak pada perkembangan selanjutnya. Masa balita ini merupakan masa emas, terutama 3 tahun pertama karena pada masa ini terjadi perkembangan synoptogenesis (pembentukan hubungan antar sel otak) yang optimal, sehingga perlu diberi rangsangan yang adekuat untuk tumbuh kembang anak.


Fase Perkembangan Anak

1. Fase basic trust vs mistrust (usia 0 -1,5 tahun) Bayi mutlak bergantung pada orang lain, ia perlu dibantu untuk mempertahankan hidupnya dalam lingkungan yang serba tidak menentu dan asing, ia harus dilindungi untuk memperoleh “rasa aman” atau semacam rasa percaya pada lingkungan. Rasa akan “keamanan dan kepercayaan” ini sangat penting dan akan menjadi dasar hubungannya dengan lingkungan di kemudian hari. Oleh karenanya diperlukan pengelolaan fisik yang menyenangkan dan sesedikit mungkin pengalaman

2. Fase autonomy vs shame and doubt (usia 1,5 – 3 tahun) Dengan bertambah matangnya alat gerak dan rasa kemampuan diri, anak mulai menyadari bahwa gerakan badannya dapat diatur sendiri, dikuasai dan digunakan untuk suatu maksud yang didasari adanya rasa aman dan percaya diri. Pada fase ini anak lebih mementingkan diri sendiri dan tidak peduli terhadap orang lain. Anak perlu dibantu oleh lingkungan dengan sikap tegas, menenangkan serta menentramkan. Gangguan dalam tercapainya rasa otonomi diri akan berakibat bahwa anak akan dikuasai rasa malu dan ragu-ragu.

3. Fase inisiative vs guilt (usia 3 – 6 tahun). Pada fase ini anak belajar mengendalikan diri serta memanipulasi lingkungan. Setelah dasar – dasar rasa percaya diri dan otonomi, anak seolah-olah siap untuk meluaskan lingkup gerak dari dunia sekitarnya. Hal tersebut dikuatkan pula dengan meningkatnya kemampuan bahasa dan kemampuan gerakan yang bertujuan. Ia bersifat ingin tau, bertanya macam-macam, menirukan aktifitas di sekitarnya, dan melakukan sesuatu tugas tertentu seolah untuk mendapatkan rasa kebiasaan diri. Pada fase ini tokoh ayah mulai berperan penting bagi anak, kedua orang tua harus bekerja sama untuk membantu perkembangan ini, peranan orang tua sebagai ayah dan ibu penting untuk memberikan kemantapan dalam identitas diri anak, membentuk pola peranan seksual yang menyiapkan anak ke arah kematangan seksual yang wajar, serta melatih anak ke arah integrasi peranan-peranan sosial dan tanggung jawab sosial yang wajar di kemudian hari.

4. Fase industry vs inferiority (usia 6 – 12 tahun) Pada fase ini anak mampu untuk menghadapi dan menyelesaikan tugas / perbuatan yang berarti kemampuan menghasilkan sesuatu merupakan dorongan utama dalam dirinya. Anak siap meninggalkan orang tua / rumah dalam waktu terbatas untuk menuntut ilmu, belajar di sekolah. Gangguan pada fase ini adalah yang menghambat tercapainya rasa mantap, kepuasan akan kemampuan yang dimiliki untuk menghasilkan sesuatu akan mengakibatkan anak diliputi rasa
kekurangan diri, tidak mampu, rasa inferior.

5. Fase identity vs role diffusion (usia 12 – 18 tahun) Merupakan fase terakhir masa anak sebelum memasuki masa dewasa. Dalam masa menuju kedewasaan, remaja mengalami perubahan fisik dan kejiwaan yang penting. Remaja disatu pihak dianggap sudah mempu menguasai dan meninggalkan berbagai masalah anak-anak, untuk siap memasuki kedewasaan. Secara biologis remaja memiliki kemampuan orang dewasa, namun secara psikososial mereka belum mendapatkan hak untuk menggunakan kemampuannya itu. Mereka sering bertanya “siapa aku ini”, “apa aku ini”, “apa jadinya aku nanti”. Hal tersebut merupakan hal yang pokok dan cerminan problem identitas diri. Mereka berusaha mencari identitas di bidang seksual, umur, dan okupasional. Mereka bereksperimen dengan berbagai pola identitas alternatif lainnya, sebelum ia dengan lebih pasti dapat menentukan pilihan. Sehingga sering terjadi krisis identitas pada akhir masa remaja.

Penanganan Stress Pada Anak

Stress pada anak terutama balita sering tidak dikenal oleh orangtuanya, seperti sakit-sakitan, cengeng/rewel atau dicap anak nakal/bandel bila tingkah lakunya tidak sesuai dengan norma atau aturan. Maka perlu pengenalan stress pada anak sejak dini, sehingga dapat ditangani, karena bila diatasi secara benar akan mempengaruhi perkembangan jiwa anak selanjutnya.

Manifestasi Stress pada Anak

Anak Balita

• Rewel, ketakutan, ingin melekat pada ibu

• Terlambat bicara

• Problem makan

• Problem tingkah laku: temper tantrum, sadistik, sikap menentang dan keras
kepala

• Enuresis (ngompol)\

• Enkoporesis,dll.

Anak 6 – 12 th

• Tidak mau sekolah

• Kesulitan belajar: tidak bisa konsentrasi

• Kurang kemauan / insiatif, ketakutan\

• Bohong, mencuri

• Hyperaktif,dll.

Anak Remaja

• Sakit-sakitan (keluhan fisik)

• Problem tingkah laku (kenakalan remaja)

• Ketakutan atau khawatir, rasa malu

• Mudah tersinggung

• Kesulitan belajar atau tidak bisa konsentrasi

• Malas belajar

• Ketergantungan obat, dll.

Prinsip Penanganan

1. Memperhatikan faktor anak, lingkungan terutama orang tua yaitu ibu dan interaksi antara ibu- anak,sehingga perlu dilakukan pendekatan biopsikososial. Bila kondisi jiwa tergolong berat, perlu diberi psikofarmaka untk mengendalikan perilaku dan emosi anak.

2. Mencari akar permasalahan suatu gejala stress, misalnya anak malas belajar, orang tua hanya melihat malasnya, padahal malasnya disebabkan oleh kondisi depresi akibat tuntutan orang tua yang menginginkan anaknya mendapat ranking.

3. Penanganan cepat dan tepat sejak dini.

4. Tiap anak akan berbeda pendekatannya karena anak adalah manusia yang unik, maka pendekatannya juga unik.

Pada prinsipnya, penanganan stress pada anak dapat dilakukan dengan berbagai cara yang mudah. Cara tersebut antara lain,
– Latihan bernafas bagi anak. Hal ini untuk menciptakan rasa relaks da menghilangkan kecemasan yang mungkin dirasakan.

– Suruhlah anak-anak untuk menggambar sesuatu hal yang disenangi oleh mereka. Hal ini secara tidak langsung dapat melukisakan bagaimana perasaan mereka saat itu.

– Bermain-main dengan teman, mainan kegemarannya ataupun bermain dengan binatang peliharaannya. Hal ini dapat melupakan sejenak segala tekanan yang dirasakannya.

– Mengajarinya untuk senantiasa berfikir positif terhadap segala hal yang dilakukannya dan memberi support penuh dengan apa yang sedang dilakukannya.

– Hal yang plaing pentinga dalah meumbuhkan kepercayaan dirinya. Meyakinkan bahwa dia dapat melakukan sesuatu hal yang bermanfaat, tentunya dengan dorongan dan support dari lingkungan keluarga khususnya dan lingkungan sekitarnya.

Sikap Orang Tua

1. Harus mampu memberi kasih sayang, karena anak membutuhkannya, sehingga tercipta suasana lingkungan yang aman dan damai.

2. Peka dan responsif akan kebutuhan anak.

3. Bersikap hangat , tegas dan respek terhadap anak.

4. Mampu berempati.

5. Terima anak apa adanya.

6. Memberi kesempatan pada anak untuk mengungkapkan perasaannya.

7. Memberi dorongan pada anak untuk melakukan sesuatu dan beri pujian atau penghargaan.

8. Melatih anak mandiri.

9. Melatih nilai etika-moral sejak dini.

10. Memberi contoh pada sikap / perbuatan.

11. Sikap ibu dan ayah harus sejalan.

12. Merangsang anak sesuai kemampuan dan tahap perkembangan jiwa anak dalam suasana yang menyenangkan seperti bermain sambil belajar.

Wallahu Ta’ala A’lam

~ Fathimah Ummu ‘Abdillah~

http://www.sobat-muda.com

One thought on “Kenali Tanda Stress Pada Anak

  1. adik saya mengalami sebuah pertentangan dengan orang tuanya orang tuanya ingin dia nyantren sementara dirinya tidak ingin karena dia lebih senang kalau di rumah tapi orang tuanya tetap memaksa memasukan dia ke pesantren hingga akhirnya 5 bulan berlalu tingkah laku adik saya ini agak aneh:
    1.dia suka naik ke loteng rumah sambil menangis
    2.terkadang dia main main dengan pisau dapur
    3.suka bicara sendiri
    4.suka tertawa sendiri

    menurut ibu/bapak apakah sebaiknya dia berhenti saja atau melanjutkannya? apakah ada gangguan mental? apakah sebaiknya dia berhenti saja?

    mba karin, saya balaskan via imel saja gimana?
    maaf..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s